Sejarah Baju Koko, Budaya Cina Atau Muslim Arab?

Tidak banyak yang mengetahui tentang sejarah baju koko yang umum dikenakan umat muslim laki-laki di Indonesia. Baju yang menjadi incaran pada bulan Ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri ini ternyata memiliki sejarah hingga akhirnya sampai ke Indonesia.


Penemuan asal kata baju koko ditemukan pada novel karya budayawan Remy Sylado, yang berjudul ‘Novel Pangeran Diponegoro: Menuju Sosok Khilafah’. Pada bukunya, Remy menjelaskan asal muasal penyebutan baju koko dari baju Shi-Jui yang mirip piama dan dipakai oleh orang Cina.

“Baju logro bahan sutra putih yang biasanya disebut shi-jui. Karena yang memakainya dipanggil engkoh-engkoh, yakni sebutan umum bagi lelaki Cina, maka baju ini pun disebut baju engkoh-engkoh. Dieja bahasa Indonesia sekarang menjadi baju koko,” disebut pada novel karya Remy yang diterbitkan pada 2008.

Sementara itu menurut  pengamat fashion Sonny Muchlison, banyak juga yang menyebutkan bahwa baju koko itu bukan dari Cina tapi dari Arab. "Makanya mereka memberikan dekorasi berupa kombinasi bordiran di bagian depannya,” katanya, Senin 21 Mei 2018.

Menurut Sonny, ide kerah baju koko aslinya terinspirasi dari pakaian presiden Pakistan, Jawaharlal Nehru. Baju yang dipopulerkan Nehru memiliki kerah agak tinggi dan bentuk pakaiannya seperti jas atau semi jaket.

Baju koko Indonesia juga tidak berbeda jauh dengan baju tagalog dari Filipina, karena modelnya mirip. “Perbedaannya terdapat pada bahannya saja. Baju tagalog ciri khasnya terbuat dari serat nanas yang tembus pandang. Kemudian baju tagalog juga dibordir, dan dipakai bersamaan dengan kaos putih polos sebagai dalaman,” tambah Sonny.

Sekarang desain baju koko yang ditemukan lebih minimalis, yaitu dekorasi bordirnya tidak terlalu banyak. Tren lain baju koko saat ini adalah dekorasi batik di bawah leher kerah baju koko yang polos. Warna-warna yang dijual di pasaran juga lebih sedikit warna hitam. Kebanyakan berwarna putih, abu-abu, dan warna pastel.

Tren busana koko juga sempat menjadi buah bibir akibat film superhero Black Panther pada Februari 2018. Ketika ada yang menggaungkan desain baju koko yang menarik, maka pedagang baju muslim akan mengambil kesempatan tersebut untuk menjualnya. Biasanya merek baju koko juga melakukan endorse dengan para ustad atau sinetron di televisi yang mempunyai cerita yang Islami.

(Sumber: tempo.co)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Baju Koko, Budaya Cina Atau Muslim Arab?"

Post a Comment